TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU: Sunrise yang Menggigil - Reezumiku

Monday, December 7, 2015

TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU: Sunrise yang Menggigil

Salah satu gunung di Bromo
Liburan waktu itu, dari Tulungagung, saya berkumpul di salah satu rumah kawan sebagai titik keberangkatan pada pukul 21.00 WIB. Kemudian kami berangkat satu jam kemudian. Sengaja kami berangkat malam hari dengan tujuan utama menikmati sunrise di puncak Bromo.
Sialnya, kendaraan yang saya tumpangi mengalami masalah ketika kami hampir saja sampai. Hanya butuh memutar roda sekitar 3 km lagi padahal. Baiklah, lima menit, sepuluh menit, setengah jam, ternyata lebih lama dari dugaan. Namun waktu tak akan pernah berhenti berputar. Oke, ini bukan sial tetapi salah satu cara Allah menorehkan kenangan pada benak saya.
Mentari pun mulai menampakkan diri. Lambat laun semakin tinggi. Tujuan utama untuk mengagumi ciptaan Allah dari puncak Bromo pun musnah. Namun keindahan sunrise dari salah satu belokan jalan ini tak boleh dihina pesonanya.
 Sinar kemerahan itu membuat saya berkali-kali bersyukur. Padahal setiap hari mentari selalu muncul dengan pesona agungnya. Namun menengadah, menikmati pancaranya, dan merasakan hangatnya cahaya itu adalah hal yang sangat jarang saya lakukan. Sungguh, keindahan yang saya sesali karena sering saya abaikan.
Saya berpikiran untuk melihat mentari setiap hari setelah itu. Matahari membuat saya menyadari kebesaran Allah. 
Sunrise dari salah satu tikungan jalan
 Kembali ke perjalanan yang akhirnya masih bisa dilanjutkan setelah pengemudi membetulkan kerusakan. Sesampainya di area masuk, kendaraan kami parkir. Ternyata masih jauh untuk menuju salah satu kawah gunung Bromo. Saya dan teman-teman menyewa Jeep sebagai satu-satunya tunggangan ampuh menuju area penanjakan yang jalurnya cukup berliku dan curam.
Sampailah saya di lautan pasir dengan tubuh yang menggigil. Ya, saya belum sempat browsing tentang lokasi ini sebelum berangkat. Teman-teman juga tak ada yang memberitahu bahwa Bromo akan sedingin ini. Tubuh terasa beku dan semakin menjalar ke semua bagian. Jaket tebal yang melapisi baju saya masih tak mampu jadi perisai. Saya juga sudah memakai kaos kaki dan kerudung. Namun hawa dingin tetap pandai mencari celah untuk menciumi kulit.
Akhirnya saya membeli sepasang sarung tangan dari salah satu penjual yang menjajakan dagangannya. Kebetulan, saya juga membawa satu buah kerudung paris yang kemudian saya alih fungsikan sebagai masker. Pijakan hanya bertumpu pada pasir dan debu yang kering. Ketika mendaki ke puncak, debu berterbangan oleh jejak kaki pengunjung lain. So, untuk sementara kalau ingin berkunjung ke tempat ini bawalah masker, sarung tangan, jaket tebal, syal, penutup kepala, pokoknya yang bisa membuatmu hangat.
Berdebu dan dingin
Seperti di Mesir saja ya, sayang itu bukan UNTA
Menuju puncak salah satu kawah
Pemandangan dari atas
Salah satu gunung berpasir
Lautan pasir tampak dari atas
Tangga menuju salah satu kawah
Ini ceritanya mahasiswa bahasa Inggris yang nimbrung dadakan dengan turis. Melatih sebanyak apa pembendaharaan kata kita. hehe
Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo tengger Semeru. Yang saya dapati waktu itu, matahari sudah tinggi. Cukup terang untuk membakar padang pasir. Namun apa, yang saya rasakan tetap dingin yang semakin kuat. Hingga siang hari pun tempat ini masih dingin. Mentari yang memanggang bumi seolah ikut menggigil.
Kawah
Keindahan sunrise yang tak dapat saya saksikan dari area penanjakan atau puncak gunung ternyata digantikan oleh pemandangan yang tak sengaja saya potret ketika beristirahat dekat sebuah pura. Awalnya saya kira hanya awan biasa yang tertiup angin semakin tinggi. Tapi tidak, awan itu malah menggelombang muncul dari balik gunung lalu meluncur kebawah seperti air terjun. Sungguh menakjubkan.
Awan yang muncul dari balik gunung bak air terjun
Saya mengunjungi tempat wisata ini pada bulan Oktober 2012 silam. Sudah cukup lama hingga cerita ini terposting di sini. Waktu itu gunung ini juga belum lama bergemuruh, jadi bekas galian jalur lava erupsi gunung yang terjadi satu setengah tahun lalu masih kokoh membelah pasir. 
Semeru sebagai latar novel best seller Donny Dhirgantoro juga belum booming dengan filmnya ketika itu. Kalau saja saya tahu keindahan Semeru keseluruhan, mungkin saya akan mampir sekalian kesana. Namun, ya, saya menerima ketidaktahuan saya waktu itu.
Sekarang saya hanya ingin memasukkan Ranu Kumbala dan semua tetangganya itu ke dalam traveling list saya. Semoga entah kapan saya bisa menyisihkan waktu yang semakin memadat ini lalu bisa pergi ke sana. Kalau ada yang mau ngajak ke sana, wah… ayokkk.
Pura di tengah lautan pasir
Salah satu bangunan pura
Sedikit cerita ketika saya melihat pura yang ada di padang pasir sekitar Bromo. Masyarakat sekitar ternyata hamper seluruhnya beragama Hindu. Bangunan-bangunan yang saya kira musholla ternyata adalah pura, tempat beribadah umat Hindu. Maka dari itu saya kesulitan mencari mushola untuk menunaikan shalat. Namun toleransi beragama di daerah ini sangat kuat. Sebagai minoritas, saya tidak merasakan perbedaan yang begitu berarti.
Pada akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk mencari mushola dalam perjalanan pulang. Ya, shalat adalah agenda utama ketika berlibur. Meski lelah usai berkeliling, sulit mencari tempat ibadah seperti di lokasi wisata ini, dan seindah apapun tempat yang dikunjungi, tidak akan pernah merasakan kenikmatan sejati sebelum melaksanakan kewajiban ini pada waktunya.
Tapi saya dengar dari seorang kawan yang berkunjung ke sana beberapa waktu lalu, sudah ada tempat ibadah yang bisa digunakan kawan muslim ketika berwisata kesana.
Oke, jangan lupa bangun pagi dan menengadahkan wajah ke arah timur pagi ini ya. Dimanapun kamu berada, mentari yang kau pandang adalah sama dengan yang muncul di pantai Denpasar, puncak Bogor, atau dari gunung Bromo ini. Satu ciptaan Allah yang mengagumkan. 

Tulungagung, 6 Desember 2015
05.58 WIB di bawah sinaran mentari.

1 comment:

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools