WISATA LITERASI FBM chapter 1 : Hutan Mangrove Cengkrong, Trenggalek - Reezumiku

Thursday, December 3, 2015

WISATA LITERASI FBM chapter 1 : Hutan Mangrove Cengkrong, Trenggalek

Ini dokumentasi mas Masjudi Mantap yang saya ambil dari FB. Ijin mas ya... :-)
Hutan mangrove atau hutan bakau biasanya tumbuh subur di dekat laut karena sangat dipenggaruhi pasang surut air. Sudah lama saya mendapatkan rujukan tempat wisata ini dari seorang teman yang katanya ‘seger banget’. Yup, akhirnya saya mendapat kesempatan merasakan kesegaran hutan mangrove di desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Trenggalek, Jawa Timur.


Sekitar dua jam perjalanan dari Tulungagung, saya dan teman-teman dari Relawan FBM 2015 sempat berhenti sejenak untuk menghirup udara segar di jalur selatan. Kami juga bisa melihat pantai prigi dari sana. Selang beberapa menit, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Pantai di depan jalan masuk ekowisata Mangrove
Pintu masuk, eh nggak ada pintunya sih. Jalan masuk (aja) Hutan Mangrove Pancer Cengkrong berhadapan langsung dengan bentangan pantai Prigi dan pantai Damas. Angin berhembus kencang dan ombak juga cukup besar sehingga tak ada satu orang pun yang mendekati pantai. Kemudian, di area parkir ekowisata mangrove saya menemukan beberapa hewan yang di rawat oleh warga sekitar seperti landak, kelinci, burung dan lainnya.

 Ketika masuk ke dalam hutan, barulah saya paham apa yang teman saya bilang tentang ‘seger banget'. Ya, sepanjang mata memandang, yang terhampar ialah hijaunya pepohonan. Segar, damai, dan menyejukkan. Pemandangan lebih jauh lagi menyuguhkan pegunungan indah yang seolah mengelilingi hutan mangrove tersebut.

Ketika baru sampai, air belum terlalu tinggi. Saya masih bisa melihat kepiting bakau yang merangkak di lumpur. Namun beberapa jam kemudian air mulai meninggi dan merendam beberapa bagian akar pohon. 

Jembatan untuk menyeberangi sungai


My legs :-)

Sungai, Mangrove dan Pegunungan

Mangrove: Ini akar apa cabang pohon ya???
Namun pohon mangrove di kawasan ini masih pendek-pendek sehingga tidak mampu menaungi tubuh dari sengatan matahari. Maklum saja, saya sampai di lokasi ketika matahari sedang terik. Namun di beberapa tempat yang teduh, saya bisa merasakan kesejukan oksigen yang berlimpah. Sebagai saran agar benar-benar bisa merasakan kesejukan mangrove di area ini, datanglah pagi-pagi sekali ketika matahari masih hangat.

Untuk mengelilingi hutan mangrove Cengkrong - begitu orang-orang mengenalnya, saya melewati jembatan kayu yang menopang kokoh pada lumpur dibawahnya. Jembatan-jembatan ini juga memiliki beberapa cabang yang mengarahkannya pada sebuah joglo atau gazebo sederhana dari kayu yang biasanya digunakan pengunjung untuk beristirahat.

Ini joglo apa gazebo ya nyebutnya? Pokoknya tempat ini teduh banget.

Jembatan untuk menyeberangi sungai

Tetap eksis :-) Kekekekekekeee
Hutan mangrove ini penting sekali dilestarikan dan dijaga keberadaannya. Selain sebagai wisata alam, juga bisa menjadi wisata edukasi bagi pengunjung. Dari sini pula saya baru mengetahui kalau mangrove itu masih terbagi lagi ke dalam beberapa jenis. Pohon berakar menjulang tinggi dan bercabang-cabang ini juga sangat bermanfaat bagi kawasan di sekitarnya. Salah satunya sebagai perisai alam untuk menghalangi air laut yang merembes ke tanah daratan sehingga air tanah masih dapat di konsumsi oleh warga sekitar.

Salah satu sikap yang bisa saya lakukan sebagai pengunjung dan tamu alam ialah menjaga keaslian dan kebersihan tempat yang saya kunjungi. Merawat keasliannya dengan tidak mencorat-coret atau merusak. Sementara kebersihan dijaga dengan menyimpan sampah yang saya bawa lalu membuangnya ketika menemukan tempat sampah di luar area wisata.

 Beruntungnya, di kawasan hutan mangrove Cengkrong, Trenggalek ini telah banyak disediakan tempat sampah. Kalaupun di tempat wisata lain tidak ada, bukan berarti sampah bisa dibuang dimana saja ya. Lagi pula saya atau kita sendiri yang bawa makanan, minuman, bekas tisue, lalu kita sendiri yang menikmatinya, masak orang lain yang membersihkan. Malu kan...

Touch the mangrove
Oh iya, saya juga sempat naik perahu untuk berkeliling. Banyak pemandangan yang berbeda yang mungkin tidak dapat saya nikmati bila hanya berjalan di jembatan-jembatan mangrove saja. 

Pohon kelapa: saat menyusuri hutan dengan perahu

Sekitar 30 menit perjalanan dengan perahu. Nggak bakal rugi deh kalau nyoba.
Sekedar info saja untuk kalian yang berencana pergi ke Hutan Mangrove Pancer Cengkrong, Trenggalek ini tak perlu biaya banyak. Selain transportasi, untuk masuk ke wisata mangrove ini juga tak memerlukan tiket masuk sebenarnya. Cukup dengan membayar biaya parkir sekitar 20.000 kalau mobil besar (yang buat rombongan itu) atau 5000 untuk motor. Nah, kalau parkir di area luar seperti saya yang bandel ini, baru dikenakan biaya 2000 per orang (anak-anak gratis) untuk masuk ke hutan mangrove.


Sementara untuk biaya naik perahu adalah 10.000 per orang. Saya sudah diajak keliling ke sepanjang sungai hingga ke bibir pantai kurang lebih selama 30 menit. Sang nahkoda (hehe) juga mengajak saya melewati jembatan besar sebagai jalan raya yang entah apa namanya.


Kalau beruntung kalian bisa berjumpa dengan bangau yang terbang rendah di sekitar sungai. So, silahkan datang sendiri dan nikmati liburanmu.

Tak perlu jauh-jauh untuk berlibur, hanya pergilah bersama orang-orang yang penting dalam hidupmu. That means happiness.



Notes: 
Perjalanan 15 November 2015 lalu #Latepost J
Baca kelanjutannya di  WISATA LITERASI FBM Chapter 2 : Pantai Pasir Putih, Trenggalek


Tulungagung, 3 Desember 2015
~Reezumi~



7 comments:

  1. itu jembatan jalur lintas selatan mbk anis, tembus pacitan

    ReplyDelete
  2. Tulisan memoar yang keren Anis. Yups, begitulah semestinya. Kayaknya kemana pun engkau menapakkan kaki, pasti akan ada kenangan yang terlahir dari situ.

    Sukses selalu..... :)

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Local Business Directory, Search Engine Submission SEO Tools